Sabtu, 14 Mei 2016

Cerpen Ernest Hemingway: Sebuah Tempat Bersih dan Bercahaya Terang



Cerpen Ernest Hemingway




Sebuah Tempat Bersih dan Bercahaya Terang


Hari sudah larut malam dan setiap orang telah meninggalkan kafe kecuali seorang pria tua yang duduk dalam bayang-bayang dedaunan pohon yang menghalangi cahaya lampu listrik. Di siang hari jalanan depan kafe tersebut berdebu, tetapi di malam hari embun menempel pada debu sehingga debu tidak beterbangan dan pria tua itu suka duduk di kafe hingga larut malam karena ia tuli dan sekarang di malam hari suasananya tenang dan ia merasakan suatu perbedaan. Dua pelayan di dalam kafe tahu bahwa pria tua itu sedikit mabuk. Mereka juga tahu bahwa pria tua itu adalah klien yang baik sehingga jika ia terlalu mabuk ia akan pergi tanpa membayar, jadi mereka terus mengawasinya.
“Minggu lalu ia mencoba bunuh diri,” kata seorang pelayan.
“Mengapa?” tanya pelayan lainnya.
“Ia putus asa.”
“Karena apa?”
“Tidak ada penyebabnya. Ia tidak punya masalah”
“Bagaimana kamu tahu ia tidak punya masalah?”
“Ia mempunyai banyak uang.”
Mereka duduk bersama di sebuah meja yang menempel pada dinding dekat pintu kafe dan melihat ke teras di mana meja-meja terlihat kosong kecuali dimana pria tua duduk di bawah bayang-bayang dedaunan pepohonan yang sedikit bergerak dihembus angin. Seorang gadis dan seorang tentara lewat di jalan. Lampu-lampu jalanan menyinari lencana kuningan di kerah seragamnya. Si gadis tidak mengenakan tutup kepala dan berjalan bergegas di samping pria tentara tersebut.
“Penjaga akan menjemputnya,” kata salah seorang pelayan.
“Kenapa ini jadi masalah jika ia mendapatkan apa yang ia inginkan?”
“Ia lebih baik keluar sekarang. Penjaga akan mengusirnya. Mereka pergi lima menit yang lalu.”
Pria tua yang duduk di bawah bayangan mengetuk lepek dengan gelasnya. Pelayan yang lebih muda mendekatinya.
“Apa yang kamu inginkan?”
Pria tua itu memandang si pelayan dan berkata, “Aku ingin brandy lagi.”
“Kamu akan mabuk,” kata si pelayan. Pria tua itu menatap si pelayan. Si pelayan pergi.
“Ia akan berada di sini sepanjang malam,” kata si pelayan pada temannya. “Aku mengantuk sekarang. Aku tidak pernah tidur sebelum jam tiga. Ia seharusnya telah membunuh dirinya sendiri minggu lalu.”
Pelayan mengambil sebotol brandy dan lepek lainnya dari konter di dalam kafe dan berjalan menuju meja pria tua itu. Pelayan meletakkan lepek dan menuangkan segelas penuh brandy.
“Kamu seharusnya telah membunuh dirimu sendiri minggu lalu,” kata si pelayan pada pria tuli itu. Pria tua itu menggerakkan jarinya. “Sedikit lagi,” katanya. Si pelayan menuangkan sedikit brandy ke dalam gelas sehingga brandy meluber dan masuk kedalam lepek. “Terima kasih,” kata pria tua itu.
Si pelayan membawa botol brandy kembali ke dalam kafe. Ia duduk di meja dengan koleganya.
“Ia mabuk sekarang,” kata salah seorang pelayan.
“Ia mabuk setiap malam.”
“Mengapa ia ingin bunuh diri?”
“Bagaimana aku tahu.”
“Bagaimana ia melakukannya?”
“Ia gantung diri dengan seutas tali.”
“Siapa yang memotong talinya?”
“Keponakan perempuannya.”
“Mengapa mereka menggagalkan usaha bunuh dirinya?”
“Takut dengan ruhnya.”
“Berapa banyak uang yang ia miliki?”
“Ia mempunyai banyak uang.”
“Ia pasti berumur delapan puluh tahun.”
“Aku yakin ia memang berusia delapan puluh tahun.”
“Aku ingin ia segera pulang. Aku tidak pernah tidur sebelum pukul tiga pagi. Jam tidur macam apa ini?”
“Ia terjaga sepanjang malam karena ia menyukainya.”
“Ia kesepian. Aku tidak kesepian. Aku mempunyai istri yang sedang menungguku di tempat tidur.”
“Dulu ia juga mempunyai seorang istri.”
“Seorang istri tidak ada gunanya baginya sekarang.”
“Kamu tidak boleh mengatakan begitu. Ia mungkin lebih baik dengan seorang istri.”
“Keponakan perempuannya yang merawatnya. Kamu katakan tadi bahwa keponakannya yang memotong talinya.”
“Aku tahu.”
“Aku tidak ingin menjadi tua seperti itu. Menjadi pria tua adalah hal yang sangat tidak menyenangkan.”
“Tidak selalu. Pria tua ini bersih. Ia minum tanpa menumpahkannya. Bahkan sekarang mabuk. Lihat dia.”
“Aku tidak ingin melihatnya. Aku ingin ia segera pulang. Ia tidak menghargai mereka yang harus bekerja.”
Pria tua itu melihat dari gelasnya melintasi alun-alun kota, kemudian menatap para pelayan.
“Brandy lagi,” katanya, sambil menunjuk ke gelasnya. Pelayan bergegas mendekatinya.
“Cukup sampai di sini,” kata si pelayan, berbicara dengan kelalaian sintaks bodoh ketika bicara pada orang mabuk atau orang asing. “Tidak ada lagi brandy malam ini. Tutup sekarang.”
“Tolong, brandy lagi,” kata pria tua itu.
 “Tidak. Cukup sampai di sini.” Si pelayan mengelap tepi meja dengan sebuah handuk dan ia menggelengkan kepalanya.
Pria tua itu berdiri, perlahan ia menghitung jumlah lepek, mengambil dompet kulit dari sakunya dan membayar minuman dan meninggalkan setengah peseta untuk tip. Pelayan mengawasi pria tua itu pergi keluar, seorang pria sangat tua yang berjalan goyah tetapi dengan bermartabat.
“Mengapa kamu tidak membiarkannya tinggal dan minum?” pelayan lainnya yang tidak buru-buru itu bertanya. Mereka menutup jendela. “Sekarang belum pukul setengah tiga.”
“Aku ingin pulang tidur.”
“Jam berapa sekarang?”
“Lebih banyak untukku daripada untuknya.”
“Satu jam itu sama saja.”
“Kamu bicara seperti seorang pria tua. Ia bisa membeli sebotol brandy dan meminumnya di rumah.”
“Itu tidak sama.”
“Memang tidak sama,” si pelayan yang punya istri setuju. Ia tidak ingin dianggap tidak adil. Ia hanya buru-buru saja.
“Dan kamu? Kamu tidak takut pulang sebelum waktu biasanya?”
“Apakah kamu mencoba menghinaku?”
“Tidak, kawan, hanya bercanda.”
“Tidak,” kata pelayan yang buru-buru, sambil berdiri menarik jendela besi ke bawah. “Aku punya kepercayaan diri. Aku sungguh percaya diri.”
“Kamu masih muda, percaya diri, dan punya pekerjaan,” kata pelayan yang lebih tua. “Kamu punya segalanya.”
“Dan apa kekuranganmu?”
“Segalanya kecuali pekerjaan.”
“Kamu punya segalanya seperti yang aku miliki.”
“Tidak. Aku tidak pernah percaya diri dan aku tidak muda.”
“Ayolah. Berhenti bicara omong kosong ini dan kunci jendelanya.”
“Aku adalah orang yang suka tinggal di kafe hingga larut malam,” kata pelayan yang lebih tua. “Dengan mereka yang tidak ingin tidur. Dengan mereka yang membutuhkan cahaya untuk malam.”
“Aku ingin pulang dan tidur,” kata pelayan yang sudah beristri.
“Kita dua orang yang berbeda,” kata pelayan yang lebih tua. Ia sekarang berganti pakaian untuk pulang. “Ini tidak hanya sebuah pertanyaan mengenai masa muda dan kepercayaan diri walau kedua hal itu sangat indah. Setiap malam aku enggan untuk tutup karena mungkin ada seseorang yang membutuhkan kafe.”
“Kawan, ada banyak toko minuman keras yang buka sepanjang malam.”
“Kamu tidak paham. Ini adalah kafe yang bersih dan menyenangkan. Kafe ini bercahaya terang. Cahayanya sangat bagus dan juga, sekarang, ada bayang-bayang dedaunan.”
“Selamat malam,” kata pelayan yang lebih muda.
“Selamat malam,” jawab koleganya. Sambil mematikan lampu ia terus berbicara dengan dirinya sendiri. Kafe ini memang memiliki penerangan yang bagus dan juga bersih serta menyenangkan. Anda tidak menginginkan musik. Tentu saja anda tidak menginginkan musik. Anda tidak perlu berdiri di depan bar dengan bermartabat walaupun itulah semua yang disediakan untuk saat ini. Apa yang ia takutkan? Ini bukanlah sebuah ketakutan. Ini bukan apa-apa yang ia ketahui dengan sangat baik. Ini bukan apa-apa dan seorang pria atau manusia bukan apa-apa juga. Hanya itu saja dan kafe ini hanya membutuhkan penerangan serta kebersihan dan keteraturan. Beberapa orang tinggal di dalamnya dan tidak pernah merasakannya, tetapi ia tahu itu semua adalah naday naday pues nada. Ketiadaan kami adalah seni di dalam ketiadaan, ketiadaan adalah nama Kerajaan-Mu ketiadaan yang akan menjadi ketiadaan di dalam ketiadaan. Beri kami ketiadaan ini, ketiadaan keseharian kami dan tiadakan kami saat kami tiada dan jangan tiadakan ketiadaan kami ke dalam ketiadaan tetapi beri kami dari ketiadaan;  jayalah ketiadaan. Jayalah ketiadaan yang penuh ketiadaan, ketiadaan adalah bersama-Mu. Ia tersenyum dan berdiri di depan sebuah bar dengan sebuah mesin kopi bertekanan uap yang berkilau.
“Pesan apa?” tanya pelayan bar.
“Ketiadaan,” jawab pelayan kafe.
“Gila,” kata pelayan bar dan berpaling.
“Secangkir kecil kopi,” kata pelayan kafe.
Pelayan bar menuangkan kopi untuknya.
“Cahayanya sangat terang dan menyenangkan tetapi bar ini terlihat kasar,” kata pelayan kafe.
Pelayan bar memandangnya tetapi tidak menjawab. Sekarang sudah terlalu larut malam untuk bercakap-cakap.
“Kamu ingin tambah kopi?” tanya pelayan bar.
“Tidak, terima kasih,” kata si pelayan kafe dan pergi keluar. Ia tidak menyukai bar dan toko minuman keras. Kafe yang bersih dengan penerangan bagus adalah hal yang sangat berbeda. Sekarang, tanpa berpikir panjang, ia akan pulang ke kamarnya. Ia berbaring di atas ranjang dan akhirnya, dengan cahaya siang hari, ia akan tidur. Bagaimanapun juga, ia berkata pada dirinya sendiri, ini mungkin hanya insomnia. Banyak orang pasti memilikinya.


EmoticonEmoticon