ADOMAN
Konon ceritanya, di daerah Aceh
ada sebuah kerajaan. Kerajaan itu dipimpin oleh seorang raja bernama Lukman
yang mempunyai seorang permaisuri bernama Puteri Jumpa.
Suatu hari, sang raja dan permaisuri itu
mengadakan perjalanan ke luar daerahnya. Dalam perjalanan itu, mereka bertemu
dengan sungai yang airnya jernih dan tak ada jalan lain selain menyeberanginya.
Sebelum menyeberangi sungai tersebut, sang raja berpesan kepada permaisurinya
agar tidak berkumur dengan air sungai tersebut. Namun, saat mereka sampai di
tengah sungai, sang permaisuri lupa dengan pesan suaminya, dia pun berkumur
dengan air sungai tersebut.
Setibanya
di daratan, keanehan pun muncul. Sang putri merasakan perutnya mual, dan
setelah itu dia muntah-muntah. Dari muntahan itu, lahirlah seekor kera yang besarnya
seukuran dengan katak. Saat sang raja dan permaisuri itu melanjutkan perjalanan
untuk pulang ke negerinya, kera tersebut membuntutinya dibelakangnya. Raja Lukman dan Puteri Jumpa pun menyadari
hal itu. Maka, ketika mereka tiba di sebuah hutan belantara yang letaknya tak
jauh dari kerajaannya, sang raja kemudian berkata kepada isterinya. “ Kita akan
malu dengan rakyat, jika anak ini kita bawa pulang.” Sang raja pun lalu
memanggil kera tersebut dan berujar, “Hai anakku, aku akan memberimu nama
Adoman. Tinggalah kamu di hutan ini, kami akan sekali-kali mengunjungimu untuk
melihatmu.” Setelah itu Raja Lukman dan permaisurinya melanjutkan perjalanan
pulang.
-----++-----
Puteri
Jumpa memiliki paras yang sangat cantik, bahkan kecantikanya tersebut sudah
tersohor sampai ke negeri Cina. Raja Cina yang mendengar tentang kabar itu,
berniat untuk memperisterinya. Raja Cina bersama pasukannya pun kemudian
bertolak menuju ke negeri Raja Lukman untuk merebut Puteri Jumpa.
Raja
Cina tersebut tak kesulitan dalam menaklukkan pasukan Raja Lukman. Bahkan Raja
Cina tersebut berhasil membuat Raja Lukman tertidur dengan sihirnya. Lalu Raja
Cina itu pun menemui Puteri Jumpa. Setelah bertatap muka dengan Puteri Jumpa,
Raja Cina itu kemudian berujar, “Wahai tuan putri yang cantik, aku kesini untuk
membawamu dan mempersuntingmu. Jika kamu menolaknya, maka negeri ini akan
kuhancurkan.”
Sang
puteri sebenarnya ingin menolak mentah-mentah tawaran Raja cina. Namun, dia
kemudian berpikir seandainya negeri ini dihancurkan, maka dia juga akan
ditangkap. Dia pun kemudian menyetujui permintaan dari Raja Cina Tersebut.
Namun, sang putri juga mempunyai persyaratan kepada Raja Cina sebelum raja
tersebut menikahinya. Puteri Jumpa berujar kepada Raja Cina tersebut bahwa ibunya
pernah bernazar ketika Puteri jumpa menikah, dia harus dibawa dengan sebuah
peti kaca. Oleh karenanya, dia meminta sebuah peti kaca yang harus dilengkapi
dengan sebuah gembok yang dikunci dari dalam serta sebuah pisau.
Raja
Cina yang kegirangan karena lamarannya diterima, menyanggupi permintaan dari
Puteri Jumpa. Dia segera menyiapkan peti kaca dan sebuah pisau tersebut. Tidak
begitu lama, persyaratan yang diminta sang
puteri telah siap. Raja cina itu pun segera menjemput Puteri Jumpa di istana.
Ketika bertemu, Puteri Jumpa berujar ke Raja Cina, “ Sebentar lagi saya akan
turun dari istana, namun tidak boleh seorang pun berada di dekat istana ini .
Sesuai permintaan dari puteri tersebut, Raja Cina kemudian memerintahkan kepada
seluruh pasukannya untuk berdiri kira-kira 20 meter dari istana Puteri Jumpa.
Tak
lama kemudian, Puteri Jumpa pun akhirnya keluar dari istananya. Dia memakai
pakaian yang sangat indah sehingga bersama wajahnya yang cantik jelita ia
terlihat seperti bidadari yang turun dari langit. Ketika sudah di luar istananya,
Puteri Jumpa segera masuk ke peti kaca dan segera menguncinya dari dalam. Melihat
Hal itu, Raja Cina berseru, “ Hai Puteri Jumpa, apa yang kau lakukan, mengapa
kau gembok peti itu dari dalam? Buka dan Keluarlah segera dari peti! Kalau
tidak mau keluar, maka peti kaca itu akan kuhancurkan.” Mendengar hal itu, maka
Puteri jumpa segera mengambil pisau dan meletakkannya di lehernya seraya
berkata, “Jika kamu berani merusak peti ini dari luar, maka saya akan bunuh
diri.” Mendengar hal itu, Raja Cina akhirnya luluh dan kemudian menyuruh anak
buahnya mengangkat peti itu untuk segera dibawa pulang ke negeri Cina.
Di tengah laut, di atas kapal Raja Cina yang
membawa peti kaca dan Puteri Jumpa, hinggaplah seekor burung bayan (burung
murai). Burung itu ternyata adalah peliharaan dari Puteri Jumpa. Dia sengaja
mencari Puteri Jumpa setelah melihat Raja Lukmanpingsan di istananya.
Raja
Cina pun kemudian mengambil senapan dan ingin menembaknya. Namun, sebelum hal
itu dilakukan oleh Raja Cina, Puteri Jumpa kemudian berteriak, “Jangan raja,
burung itu adalah peliharaanku. Anda harus menjauh dari peti, aku ingin
memanggil burung itu.” Setelah dipanggil, burung bayan itu pun kemudian
mendekat ke Puteri Jumpa. Burung tersebut kemudian berucap kepada puteri dengan
ketus, “Wahai Puteri Jumpa, mengapa engkau memanggilku, bukanya kamu sudah
memiliki Raja Cina?” Melihat hal itu, sang puteri sadar bahwa burungnya itu
tidak tahu maksud perbuatannya mengikuti Raja Cina. Lalu dia berujar kepada
burung tersebut tentang tujuannya, dan mengatakan bahwa dia tidak ingin menikah
dengan raja busuk itu. Dia juga bersumpah bahwa raja keparat itu belumpernah
menyentuh tubuhnya sedikit pun.
Sang
burung pun akhirnya percaya kepada Puteri Jumpa. Lalu setelah mengatakan yang
sebenarnya, Puteri Jumpa berpesan kepada burung bayan tersebut. “Ambilah minyak
penawar, lalu percikkanlah ke tubuh Raja Lukman yang telah disihir oleh Raja
Cina. Setelah itu, suruhlah segera beliau menjemputku di sini.”
Segera
setelah mendapatkan pesan dari Puteri Jumpa, burung bayan tersebut segera
terbang kembali menuju Raja Lukman. Dia segera melakukan perintah dari sang
puteri tersebut, yaitu menyadarkan Raja Lukman dengan percikan minyak penawar.
Akhirnya Raja Lukman pun sadar dan dia pun termenung. Lalu burung itu berkata,
“Kita beri rumah dijadikan pondok, kita berikan sawah dijadikan paya, kita
berikan isteri dijadikan jalang.” Mendengar hal itu, Raja Lukman sangat marah.
Lalu burung itu pun menjelaskan bahwa Puteri Jumpa telah dibawa oelh raja Cina
dan Raja Lukman segera disuruh untuk menyelamatkannya.
Setelah
mendengar hal itu, Raja Lukman baru sadar bahwa permaisurinya telah diculik
Raja Cina. Kemudian dia segera ingat anaknya, Adoman, yang berada di hutan
rimba. Segeralah dia ke hutan tersebut untuk menemui Adoman. Setelah berjumpa
dengan Adoman, dia mengatakan seluruh kejadian yang menimpa ibunya. Mendengar
berita buruk itu, Adoman kemudian menangis tersedu-sedu, dia berjanji akan
menjemput ibunya yang telah dirampas oleh Raja Cina.
Adoman
meminta kepada ayahnya agar menyiapkan perbekalan untuk perbekalan ke negeri
Cina. Raja Lukman pun kemudian memerintahkan kepada bawahannya untuk memasak
beberapa ekor sapi danmenanak nasi sebanyak satu ton. Setelah semua perbekalan
siap, Adoman pun kemudian dipanggil. Adoman kemudian memakan habis seluruh
masakan itu. Dia pun bersiap untuk berangkat menjemput ibunya. Sebelum
berangkat, dia berpesan kepada ayahnya agar menyusulnya setelah hari ke 20 dari
keberangkatannya. Setelah menyampaikan pesan kepada ayahnya itu, dia segera bertolak
menuju ke negeri Cina.
Sesampainya
di negeri Cina, Adoman melihat sebuah pohon mangga yang besar. Pohon itu
memiliki usia ratusan tahun dan terletak di halaman istana negeri Cina
tersebut. Setiap pagi, pohon tersebut menjatuhkan mangga sebanyak hampir dua
goni penuh. Di atas pohon magga tersebut, dia segera memikirkan cara membalas
perlakuan Raja Cina kepada negerinya.
Akhirnya
Adoman menemukan cara. Pertama-tama yang dia lakukan adalah menghabiskan
seluruh mangga yang ada di pohon itu. Di suatu pagi setelah malamnya Adoman
menghabiskan mangga di pohon besar itu, rakyat negeri itu merasa heran.
Biasanya banyak mangga yang jatuh dari pohon itu, namun hari ini, tak satupun
buah jatuh. Pada malam kedua, Adoman pun menyikat habis seluruh daun. Keesokan harinya,
Raja Cina beserta rakyatnya semakin tercengang keheranan melihat pohon itu
hanya tinggal batangnya.
Di
atas pohon yang tinggal batangnya saja itu, Raja Cina dan rakyatnya melihat
seekor kera. Maka raja tersebut menyuruh anak buahnya untuk menembak kera
tersebut. Namun, karena kekuatan dan kelincahan Adoman, tembakan dari anak buah
Raja Cina tak ada yang mengenainya. Melihat hal itu, Raja Cina pun menyuruh
lagi anak buahnya untuk memotong pohon mangga besar itu. Barulah setelah pohon
itu tumbang, Adoman bisa ditangkap.
Melihat
keberhasilan anak buahnya menangkap Adoman, raja Cina itu kemudian pergi. Namun
sebelum pergi, Raja tersebut berkata kepada anak buahnya untuk membunuh kera
tersebut. Akan tetapi, berbagai cara telah dilakukan anak buah Raja Cina untuk
membunuh adoman, namun tak sedikitpun luka yang didapat kera tersebut. Akhirnya
Adoman berkata kepada anak buah Raja Cina, “Jika ingin membunuhku, maka carilah
sepuluh gulungan kain putih, lalu lilitkan ke badanku dan siramlah dengan
minyak kelapa serta bakarlah!”
Para
anak buah Raja Cina itu percaya begitu saja pada omongan Adoman, maka mereka
kemudian melakukan hal itu. Setelah badan Adoman terbakar, dia segera
berlompatan dari satu rumah ke rumah lain. Akibatnya seluruh kota dan kampung
di negeri Cina terbakar, kecuali tempat di mana ibunya ditawan. Para anak buah
Raja Cina tadi baru sadar ditipu Adoman setelah semuanya terbakar, mereka pun
tak bisa berbuat apa-apa. Rakyat negeri Cina pun ketakutan dan pergi
meninggalkan kampung dan kotanya.
Akhirnya
di hari yang ke 20, kapal ayahnya datang, Adoman pun segera menemui ayahnya.
“Ayahanda, kampung dan kota negeri Raja Cina sudah ananda bakar, kecuali tempat
ibunda ditawan,” ujar Adoman kepada ayahnya. Raja Lukman beserta pasukanya
sangat terkejut dengan ketangkasan Adoman. Adoman pun kemudian melanjutkan
pembicaraan dengan ayahnya. “Ayah tidak usah ke sana, biar aku saja yng
menjemput ibu,” ucapnya kepada Raja Lukman. “Jangan, lebih baik kita berdua ke
sana bersama-sama,” jawab Raja Lukman.
Raja
Lukman beserta pasukannya dan Adoman pun berangkat menuju istana Raja Cina.
Pertempuran sengit pun terjadi setelah mereka bertemu dengan Raja Cina dan
pasukannya. Raja Cina akhirnya tewas dalam pertempuran tersebut, Raja Lukman
pun segera bergerak ke tempat isterinya ditawan.
Raja
Lukman lalu menggedor pintu ruangan di mana Puteri Jumpa ditahan. Mendengar
gedoran pintu ruangannya, Putri Jumpa bertanya, “Siapa di luar?” Raja Lukman pun menjawab, “Saya bersama Adoman
datang menjemputmu.” Setelah berhasil menyelamatkan permaisurinya, negeri Cina
pun kemudian juga dikuasai oleh Raja Lukman.
Setelah
enam bulan berkuasa di negeri Cina, Raja Lukman memerintahkan rakyat yang telah
pergi waktu kebakaran akibat Adoman, diminta kembali ke negeri Cina. Setelah
itu Raja Lukman juga berhasil mengajak rakyat negeri Cina tersebut untuk memeluk agama Islam.
Setelah beberapa waktu di negeri Cina, Raja Lukman berserta Puteri Jumpa
kembali ke kampung halamannya. Setibanya di negerinya kembali, Raja Lukman dan
permaisurinya menetap di istananya, sedangkan Adoman kembali ke tempatnya, di
dalam hutan. Akan tetapi, Adoman juga sering pulang ke istana untuk bertemu
ayahnya dan ibunya.
EmoticonEmoticon