Jumat, 13 Mei 2016

CERPEN ERNEST HEMINGWAY HARI INI ADALAH HARI JUMAT (TODAY IS FRIDAY)

CERPEN ERNEST HEMINGWAY

HARI INI ADALAH HARI JUMAT





Tiga tentara Romawi berada di sebuah kedai minum pada pukul sebelas malam hari. Ada banyak barel minuman sekitar dinding. Di belakang konter kayu,  penjual-anggur Ibrani melayani mereka. Ketiga tentara Romawi itu sedikit tolol.
TENTARA 1: “Kamu mau mencoba anggur merah?”
TENTARA 2:  “Tidak, aku tidak akan mencobanya.”
TENTARA 1:  “Kamu lebih baik mencobanya.”
TENTARA 2: “Baiklah, George, kita bertiga akan minum anggur merah.”
PENJUAL-ANGGUR IBRANI: “Ini tuan-tuan. Kalian akan menyukainya. (Ia meletakkan kendi gerabah yang telah ia isi dengan anggur merah dari salah satu barel). Ini anggur yang enak.”
TENTARA 1: “Ayo minum. (Ia berpaling pada tentara ketiga yang bersandar pada barel) Ada masalah apa denganmu?”
TENTARA 3: “Aku sakit perut.”
TENTARA 2: “Kamu lebih baik minum air.”
TENTARA 1: “Minumlah sedikit anggur merah.”
TENTARA 3: “Aku tidak bisa minum anggur sialan itu. Itu membuat ususku asam.”
TENTARA 1: “Kamu berada di luar di sini terlalu lama.”
TENTARA 3: “ Sialan, tidakkah aku mengetahuinya?”
TENTARA 1: “Begini, George, bisakah kamu memberi temanku ini sesuatu untuk menyembuhkan perutnya?”
PENJUAL-ANGGUR IBRANI: “Aku akan mengambilnya segera.”
(Tentara Romawi ketiga minum campuran yang dibuat oleh penjual anggur untuknya)
TENTARA 3: “ Hei, apa yang kamu taruh di dalam minuman ini, keripik unta?”
PENJUAL ANGGUR: “Kamu minum ramuan itu, Letnan. Itu akan menyembuhkanmu.”
TENTARA 3: “Yah, aku tidak merasa sakit lagi.”
TENTARA 1: “Ambilah risiko dengan ramuan itu. George pernah menyembuhkan sakit perutku.”
PENJUAL ANGGUR: “Kamu dalam kondisi jelek, Letnan. Aku tahu apa yang bisa menyembuhkan sakit perut.” (Tentara ketiga minum secangkir ramuan).
TENTARA 3: “Ya, Tuhan.” Ia menyeringai
TANTARA 2: “Itu alarm palsu!”
TENTARA 1; “Oh, aku tidak tahu. Ia tadi cukup sehat di sana hari ini.”
TENTARA 2: “Mengapa ia tidak turun dari salib?”
TENTARA 1: “Ia tidak mau turun dari salib. Itu bukan dramanya.”
TENTARA 2: “Tunjukkan padaku orang yang tidak mau turun dari salib.”
TENTARA 1: “Wah, sialan, kamu tidak tahu apa-apa tentang hal ini. Tanya George di sana. Apakah ia mau turun dari salib, George.”
PENJUAL ANGGUR: “Aku katakan pada kalian, tuan-tuan, aku tidak berada di sana. Aku tidak tertarik dengan hal ini.”
TENTARA 2: “Dengar, aku telah melihat banyak dari mereka dan banyak lagi di tempat-tempat lainnya. Setiap kali kamu tunjukkan padaku orang yang tidak mau turun dari salib ketika waktunya telah tiba ketika waktunya telah tiba, aku akan memanjat naik dengannya.”
TENTARA 1: “Aku rasa ia cukup sehat di sana hari ini.”
TENTARA 3: “Ia baik-baik saja.”
TENTARA 2: “Kalian tidak tahu apa yang sedang aku bicarakan. Aku tidak mengatakan apakah ia sehat atau tidak. Apa yang aku maksudkan adalah, ketika waktunya tiba. Ketika mereka mulai memakunya, tidak ada satupun dari mereka yang tidak akan menghentikannya jika mereka bisa melakukannya.”
TENTARA 1: “Tidakkah kamu memahaminya, George?”
PENJUAL ANGGUR: “Tidak, aku tidak tertarik dengan hal itu, Letnan.”
TENTARA 1: “Aku terkejut bagaimana ia beraksi.”
TENTARA 3; “Bagian yang tidak aku suka adalah memaku mereka. Kamu tahu itu pasti membuatmu cukup buruk”
TENTARA 2: “Itu tidak begitu buruk, ketika mereka mengangkatnya ke atas.” Ia membuat gestur mengangkat dengan kedua telapak tangannya bersisihan.”
TENTARA 3: “Mereka memperlakukannya dengan cukup buruk.”
TENTARA 1: “Tidakkah aku pernah melihat mereka? Aku pernah melihat banyak dari mereka. Aku katakan pada kalian, ia cukup sehat di sana hari ini.”

Penjual angggur melihat ke atas dengan penuh pengharapan. Tentara Romawi ketiga duduk dengan kepala menunduk. Ia tidak nampak sehat.
TENTARA 3: “Aku tidak ingin lagi.”
TENTARA 2: “Hanya untuk dua orang, George.”
Penjual anggur mengeluarkan kendi berisi anggur, ukurannya lebih kecil daripada kendi terakhir. Ia mencondongkan tubuhnya ke depan di atas konter kayu.
TENTARA 1: Kamu melihat gadisnya?
TENTARA 2: “Tidakkah aku berdiri tepat di sampingnya?”
TENTARA 1: “Ia cantik.”
TENTARA 2: “Aku telah mengenalnya sebelum ia mengenalnya.” Ia mengedipkan matanya pada penjual anggur.
TENTARA 1: “Aku dulu biasa melihatnya di sekitar kota.”
TENTARA 2: “Ia dulu mempunyai banyak barang. Ia tidak pernah membawakan gadis itu nasib buruk.”
TENTARA 1: “Oh, ia tidak beruntung. Tetapi ia nampak cukup sehat bagiku di sana hari ini.”
TENTARA 3: “Apa yang terjadi dengan para pendukungnya?”
TENTARA 1: “Jumlah mereka menyusut. Hanya para wanitayang masih menemaninya.”
TENTARA 2: “Mereka kerumunan kuning. Ketika mereka melihatnya naik mereka tidak menginginkan apa pun dari hal itu.”
TENTARA 1: “Para wanita yang terjebak padanya baik-baik saja.”
TENTARA 2: “Tentu, mereka yang terjebak baik-baik saja.”
TENTARA 1: “Kamu melihatku menusukkan tombak padanya?”
TENTARA 2: “Kamu akan mendapatkan masalah  suatu hari nanti karena melakukan hal itu.”
TENTARA 1: “Itu setidaknya aku bisa melakukan sesuatu padanya. Aku katakan padamu ia terlihat cukup sehat bagiku di sana hari ini.”
PENJUAL ANGGUR IBRANI: “Tuan-tuan, kalian tahu aku harus tutup.”
TENTARA 1: “Kami ingin minum satu putaran lagi.”
TENTARA 2: “Apa gunanya? Minuman ini tidak akan membuatmu ke mana-mana. Ayo, kita pergi.”
TENTARA 1: “Hanya satu putaran saja.”
TENTARA 3: Bangkit dari barel, “Tidak, ayo kita pergi. Aku merasa seperti di neraka malam ini.”
TENTARA 1: “Hanya satu putaran lagi.”
TENTARA 2: “Tidak, ayo kita pergi. Kita akan pergi. Selamat malam, George. Masukkan ke dalam tagihan.”
PENJUAL ANGGUR: “Selamat malam, tuan-tuan. (Ia terlihat sedikit kuatir). Aku tidak bisa memasukkan ini pada tagihan, Letnan?”
TENTARA 2: “Apa, George! Hari Rabu kami menerima gaji.”
PENJUAL ANGGUR: “Baiklah, Letnan. Selamat malam, tuan-tuan.”
Ketiga tentara Romawi keluar pintu menuju ke jalanan
TENTARA 2: “George itu baik seperti mereka.”
TENTARA 1: “Oh, George seorang teman yang baik.”
TENTARA 2: “Setiap orang adalah teman baik bagimu malam ini.”
TENTARA 3: “Ayolah, mari kita menuju ke barak. Aku merasa seperti di neraka malam ini.”
TENTARA 2: “Kamu berada di sini terlalu lama.”
TENTARA 3: “Bukan, bukan itu. Aku merasa seperti di neraka.”
TENTARA 2: “Kamu berada di sini terlalu lama. Itu saja.”

TIRAI DITURUNKAN.


EmoticonEmoticon