Rabu, 11 Mei 2016

CERITA RAKYAT BENGKULU: GADIS AMBAI

GADIS AMBAI 





Cerita Gadis Ambai ini berasal dari daerah terpencil di sebelah utara dekat perbatasan Kerinci, tepatnya di Sungai Ipuh.
            Konon katanya, dulu di daerah Sungai Ipuh hiduplah seorang pemuda yang bernama Lelo. Perawakannya cukup perkasa dan tampan untuk pemuda di kalangannya. Namun, pemuda itu umurnya sudah agak tua dan belum mendapatkan jodoh, sehingga teman-temannya sering mengejeknya sebagai bujang tua dan memanggilnya Bujang Lelo. Bujang Lelo menjawab ejekan itu sambil tersenyum dan berkata, “belum ada jodof.”
            Akan tetapi, Bujang Lelo akhirnya juga tidak tahan dengan ejekan-ejekan itu. Ia lalu memutuskan untuk hidup di sebuah kebun yang berada di dekat sebuah sungai besar. Sungai itu bernama Selagan dimana bersama dengan Sungai Majuto bermuara di Muko-muko, yaitu ibu Kecamatan Muko-muko Utara yang sekarang ini. Di kebun itu Bujang Lelo bekerja dengan rajin. Selain bercocok tanam, ia juga menyadap pohon aren untuk dibuat gula maupun manisan.
            Suatu hari di pagi yang cerah, seperti biasanya Bujang Lelo pergi untuk mengumpulkan hasil sadapan arennya. Namun, ternyata pagi itu adalah hari yang sial karena tabung penyadap arennya yang berada di dekat sungai semuanya kosong padahal kemarin berisi banyak. Ia pun kemudian memeriksa tabung sadapan lain, anehnya tabung yang jaraknya jauh dengan sungai semuanya berisi. Kejadian itu tidak hanya terjadi sekali namun terus berulang. Hal itu tentu saja membuat Bujang Lelo curiga dan kemudian dimalam hari dia memeriksa tabung penyadapnya yang berada di dekat sungai. Ketika diperiksa tabung tersebut ternyata berisi walau hanya beberapa tetes saja, namun di pagi harinya ketika akan diambil, tabung itu telah kosong. Hal itu tentu saja membuat Bujang Lelo marah dan berniat mengawasi dan mencari tahu siapa yang berani mencuri air niranya.
            Malam itu adalah malam bulan purnama, Bujang Lelo ingin mengintai dari dekat siapa pencuri air niranya. Maka malam itu dia pergi ke kebun arennya dan bersembunyi. Tak ada yang terjadi di hingga tengah malam, sehingga Bujang Lelo hampir kehabisan kesabaran dan ingin pulang. Namun, tepat tengah malam, terdengar suara perempuan dan terlihat tujuh bayangan keluar dari sungai. Bujang Lelo pun terus mengamatinya dengan seksama.
            Bayangan tersebut semakin mendekat dan ternyata adalah tujuh gadis cantik. Satu per satu para gadis itu kemudian naik pohon aren dengan tangga dan meminum nira dari tabung penyadap. Bujang Lelo hanya bisa diam dan termenung melihat hal itu, apalagi ketika melihat gadis ketujuh yang dianggapnya paling cantik, meminum air nira. Bujang Lelo sangat terpesona dan hanya diam menikmati pemandangan itu.
            Setelah selesai meminum air nira, para gadis itu pun kembali ke sungai dan menghilang. Hari pun tak terasa sudah menjelang pagi, dan membuat Bujang Lelo sadar dan segera pulang. Siang harinya dia pun ke kampungnya dan berniat menceritakan kejadian semalam dengan teman-temannya.
            Sesampainya di kampungnya dia pun segera menemui beberapa kawan karibnya dan menceritakan peristiwa yang telah dilihatnya. Bukannya sebuah kepercayaan, namun Bujang Lelo malah diejek oleh kawannya. Bahkan, Kawan yang paling karib merasa kasihan atas apa yang terjadi pada pikiran Bujang Lelo. Dia menganggap Bujang Lelo telah sakit sehingga dia mencarikan seorang dukun untuk menyembuhkannya.
            Dari situ tersebarlah berita keseluruh kampung, sehingga Bujang Lelo semakin mendapatkan ejekan. Melihat hal itu, kawan karib tadi merasa kasihan pada Bujang Lelo. Dia pun kemudian menyarankan kepada Bujang Lelo, “jika peristiwa yang kamu lihat benar-benar terjadi, maka tangkaplah salah satu gadis tersebut dan bawalah ke kampung ini agar semua percaya,” ujarnya kepada Bujang Lelo. Bujang Lelo pun menyetujui saran darikawannya tersebut dan dan dia berniat menangkap gadis tercantik yaitu gadis ketujuh.
            Bujang Lelo pun menyiapkan rencananya dan telah menyiapkan sebuah tali untuk menangkap salah satu dari gadis peminum air niranya itu. Setiap pagi dia pergi untuk melihat apakah tabung penyadap yang berada di dekat sungai berisi atau kosong. Kalau berisi, para gadis itu tidak datang, namun kalau kosong, tentu saja para gadis itu telah kembali dan meminum air niranya. Hingga suatu pagi ketika seperti biasanya dia ingin mengambil air nira hasil sadapannya yang berada di tepi sungai. Ternyata tabung sadapannya telah kosong yang menandakan para gadis sungai itu telah kembali datang meminum air niranya. Maka, Bujang Lelo pun berniat untuk menangkap seorang dari gadis itu malam nanti.
            Tibalah waktu malam hari, Bujang Lelo pun segera bergegas menuju kebun arennya dan bersembunyi di balik semak-semak. Ketika waktu telah tengah malam, yang ditunggu-tunggu pun datang. Para gadi itu muncul dari sungai dan satu per satu naik pohon aren menggunakan tangga untuk minum air nira. Bujang Lelo pun menunggu kesempatan untuk menangkap wanita yang paling cantik.
Hingga akhirnya tibalah wanita ketujuh naik tangga dan meminum air nira dari tabung sadapan. Tanpa disadari oleh sang gadis, Bujang Lelo sudah berada di bawah pohon aren yang dinaiki gadis itu. Ketika gadis ketujuh itu selesai meminum air nira, dia kemudian turun dari tangga. Bujang Lelo pun segera melayangkan talinya ke arah gadis itu dan menjeratnya. Gadis itu pun kemudian terjerat dan tak bisa berbuat banyak.
“Lepaskan aku!” teriak gadis itu.
“Jika kulepaskan, kau akan lari dan pergi menghilang di sungai itu,” jawab Bujang Lelo.
“Maafkan aku karena telah mencuri air niramu, tapi lepaskan aku, aku berjanji tidak akan lari,” kata gadis itu menyahut.
“Baiklah, tapi kamu harus ikut aku ke kampungku agar aku bisa membuktikan bahwa yang kukatakan adalah benar dan mereka bisa percaya padaku,” jelas Bujang Lelo.
“Baiklah, aku akan menuruti permintaanmu itu, namun sebelumnya aku ingin tanya siapa namamu?” jawab gadis itu.
“Orang-orang memanggilku Bujang lelo, dan kamu juga siapa?” Bujang Lelo balas bertanya.
“Aku adalah Gadis Ambai,” jawab sang gadis.
Setelah ikatannya dilepas, maka mereka berdua segera bergegas pergi ke rumah Bujang Lelo. Siang harinya, Bujang Lelo bersama Gadis Ambai pergi ke kampung halamannya untuk menemui ibu Bujang Lelo. Orang-orang kampung Bujang Lelo terpana melihat kecantikan dari Gadis Ambai. Bahakan ada yang berkata, “pantas saja Bujang Lelo rela untuk menunggu gadis idamannya.”
Setelah dikenalkan kepada ibunya, Gadis Ambai pun hidup dan tinggal serumah dengan Bujang Lelo. Gadis Ambai itu selalu membantu pekerjaan ibu dari Bujang Lelo. Kebaikan dan kecantikan Gadis Ambai itu lama-lama mengikat hati Bujang Lelo.
Hingga suatu hari, Bujang Lelo pun menyampaikan maksudnya untuk mempersunting Gadis Ambai itu kepada ibunya. Ibunya pun menanyakan kesungguhan dari niat anaknya itu, karena Gadis Ambai itu dari dunia yang berbeda. Bujang Lelo pun telah memantapkan hatinya dan ibunya pun merestui keinginannya tersebut.
Suatu hari di pagi hari, sang ibu pun memanggil Gadis Ambai. Sang ibu kemudian mengutarakan keinginan anaknya untuk mempersunting Gadis Ambai. Gadis Ambai pun menyetujuinya, namun dengan sebuah syarat. Syaratnya yaitu agar tidak membiarkannya mandi di sungai. Bujang Lelo dan ibunya pun setuju dengan syarat itu. Pernikahan antara Bujang Lelo dan Gadis Ambai pun segera digelar.
Setelah beberapa tahun hidup bersama, Bujang Lelo dan Gadis Ambai dikarunai seorang anak laki-laki. Mereka hidup dalam kebahagiaan dan ketentraman. Tidak ada lagi yang berani mengejek Bujang Lelo.
Hingga suatu hari, kejadian itu muncul. Bujang Lelo mengajak isteri dan anaknya pergi ke kebun. Pada saat itu, Bujang Lelo pun sibuk bercocok tanam sedangkan anknya bermain hingga kotor. Gadis Ambai yang melihat anaknya kotor pun berniat untuk memandikannya di sungai. Ibu dan anak itu pun segera pergi ke tepi sungai.
Pada saat mandi, Gadis Ambai pun ikut masuk dalam sungai. Setelah masuk ke sungai, dia kemudian teringat dengan masa lalunya dan langsung menyelam ke tengah sungai dan melupakan segala kehidupan yang telah dibangun dengan Bujang Lelo. Anaknya pun kemudian menangis karena memanggil-manggil, namun ibunya tak kunjung muncul juga.
Saat Bujang Lelo selesai bercocok tanam, ia segera menuju ke tempat isteri dan anknya. Namun, ia kaget bukan kepalang ketika dia melihat anaknya menangis sendirian dalam keadaan basah kuyup. Dia pun segera menanyakan kemana ibunya pergi. Anaknya pun menjawab bahwa ibunya telah menyelam ke dasar sungai dan tak kembali. Mendengar jawaban dari anaknya, Bujang Lelo sangat bersedih dan baru teringat kepada janjinya.
Dari dalam air terdengarlah suara yang aneh. Tidak salah lagi suara itu adalah milimk Gadis Ambai. “Rawatlah anak kita, jika kau rindu aku, tunggulah sampai bulan purnama, aku akan datang namun lewat mimpi,” bunyi suara itu. Namun terlambat, Bujang Lelo yang menggendong anaknya telah lebih cepat menceburkan dirinya ke dalam sungai. Bapak dan anak itu hilang dan hanyut terbawa sungai. Anehnya jasad keduanya tak pernah ditemukan.
Mendengar kabar duka itu, ibu bujang Lelo sangat terpukul dan sedih. Memang Bujang Lelo adalah tumpuan keluargannya, apalagi ibunya telah tua. Sang ibu pun hanya bisa menangis dan meratapi nasib hidupnya dan anaknya.
Begitulah akhir cerita dari Gadis Ambai, memang ceritanya ada kemiripan dengan cerita Telaga Air Sentosa dari Maluku. Perbedaanya bahwa kalau dalam cerita Telaga Air Sentosa itu pelakunya dari khayangan sedangkan dalam Gadis Ambai ini berasal dari bawah air, bisa disebut siluman air.selain itu endingnya juga berbeda.   


EmoticonEmoticon