GADIS AMBAI
Cerita Gadis Ambai ini
berasal dari daerah terpencil di sebelah utara dekat perbatasan Kerinci,
tepatnya di Sungai Ipuh.
Konon
katanya, dulu di daerah Sungai Ipuh hiduplah seorang pemuda yang bernama Lelo.
Perawakannya cukup perkasa dan tampan untuk pemuda di kalangannya. Namun,
pemuda itu umurnya sudah agak tua dan belum mendapatkan jodoh, sehingga
teman-temannya sering mengejeknya sebagai bujang tua dan memanggilnya Bujang
Lelo. Bujang Lelo menjawab ejekan itu sambil tersenyum dan berkata, “belum ada
jodof.”
Akan
tetapi, Bujang Lelo akhirnya juga tidak tahan dengan ejekan-ejekan itu. Ia lalu
memutuskan untuk hidup di sebuah kebun yang berada di dekat sebuah sungai
besar. Sungai itu bernama Selagan dimana bersama dengan Sungai Majuto bermuara
di Muko-muko, yaitu ibu Kecamatan Muko-muko Utara yang sekarang ini. Di kebun
itu Bujang Lelo bekerja dengan rajin. Selain bercocok tanam, ia juga menyadap
pohon aren untuk dibuat gula maupun manisan.
Suatu
hari di pagi yang cerah, seperti biasanya Bujang Lelo pergi untuk mengumpulkan
hasil sadapan arennya. Namun, ternyata pagi itu adalah hari yang sial karena
tabung penyadap arennya yang berada di dekat sungai semuanya kosong padahal
kemarin berisi banyak. Ia pun kemudian memeriksa tabung sadapan lain, anehnya
tabung yang jaraknya jauh dengan sungai semuanya berisi. Kejadian itu tidak
hanya terjadi sekali namun terus berulang. Hal itu tentu saja membuat Bujang
Lelo curiga dan kemudian dimalam hari dia memeriksa tabung penyadapnya yang
berada di dekat sungai. Ketika diperiksa tabung tersebut ternyata berisi walau
hanya beberapa tetes saja, namun di pagi harinya ketika akan diambil, tabung
itu telah kosong. Hal itu tentu saja membuat Bujang Lelo marah dan berniat
mengawasi dan mencari tahu siapa yang berani mencuri air niranya.
Malam
itu adalah malam bulan purnama, Bujang Lelo ingin mengintai dari dekat siapa
pencuri air niranya. Maka malam itu dia pergi ke kebun arennya dan bersembunyi.
Tak ada yang terjadi di hingga tengah malam, sehingga Bujang Lelo hampir
kehabisan kesabaran dan ingin pulang. Namun, tepat tengah malam, terdengar
suara perempuan dan terlihat tujuh bayangan keluar dari sungai. Bujang Lelo pun
terus mengamatinya dengan seksama.
Bayangan
tersebut semakin mendekat dan ternyata adalah tujuh gadis cantik. Satu per satu
para gadis itu kemudian naik pohon aren dengan tangga dan meminum nira dari
tabung penyadap. Bujang Lelo hanya bisa diam dan termenung melihat hal itu,
apalagi ketika melihat gadis ketujuh yang dianggapnya paling cantik, meminum
air nira. Bujang Lelo sangat terpesona dan hanya diam menikmati pemandangan
itu.
Setelah
selesai meminum air nira, para gadis itu pun kembali ke sungai dan menghilang.
Hari pun tak terasa sudah menjelang pagi, dan membuat Bujang Lelo sadar dan
segera pulang. Siang harinya dia pun ke kampungnya dan berniat menceritakan
kejadian semalam dengan teman-temannya.
Sesampainya
di kampungnya dia pun segera menemui beberapa kawan karibnya dan menceritakan
peristiwa yang telah dilihatnya. Bukannya sebuah kepercayaan, namun Bujang Lelo
malah diejek oleh kawannya. Bahkan, Kawan yang paling karib merasa kasihan atas
apa yang terjadi pada pikiran Bujang Lelo. Dia menganggap Bujang Lelo telah
sakit sehingga dia mencarikan seorang dukun untuk menyembuhkannya.
Dari
situ tersebarlah berita keseluruh kampung, sehingga Bujang Lelo semakin
mendapatkan ejekan. Melihat hal itu, kawan karib tadi merasa kasihan pada
Bujang Lelo. Dia pun kemudian menyarankan kepada Bujang Lelo, “jika peristiwa
yang kamu lihat benar-benar terjadi, maka tangkaplah salah satu gadis tersebut
dan bawalah ke kampung ini agar semua percaya,” ujarnya kepada Bujang Lelo.
Bujang Lelo pun menyetujui saran darikawannya tersebut dan dan dia berniat
menangkap gadis tercantik yaitu gadis ketujuh.
Bujang
Lelo pun menyiapkan rencananya dan telah menyiapkan sebuah tali untuk menangkap
salah satu dari gadis peminum air niranya itu. Setiap pagi dia pergi untuk
melihat apakah tabung penyadap yang berada di dekat sungai berisi atau kosong.
Kalau berisi, para gadis itu tidak datang, namun kalau kosong, tentu saja para
gadis itu telah kembali dan meminum air niranya. Hingga suatu pagi ketika
seperti biasanya dia ingin mengambil air nira hasil sadapannya yang berada di
tepi sungai. Ternyata tabung sadapannya telah kosong yang menandakan para gadis
sungai itu telah kembali datang meminum air niranya. Maka, Bujang Lelo pun
berniat untuk menangkap seorang dari gadis itu malam nanti.
Tibalah
waktu malam hari, Bujang Lelo pun segera bergegas menuju kebun arennya dan
bersembunyi di balik semak-semak. Ketika waktu telah tengah malam, yang
ditunggu-tunggu pun datang. Para gadi itu muncul dari sungai dan satu per satu
naik pohon aren menggunakan tangga untuk minum air nira. Bujang Lelo pun
menunggu kesempatan untuk menangkap wanita yang paling cantik.
Hingga akhirnya tibalah
wanita ketujuh naik tangga dan meminum air nira dari tabung sadapan. Tanpa
disadari oleh sang gadis, Bujang Lelo sudah berada di bawah pohon aren yang
dinaiki gadis itu. Ketika gadis ketujuh itu selesai meminum air nira, dia
kemudian turun dari tangga. Bujang Lelo pun segera melayangkan talinya ke arah
gadis itu dan menjeratnya. Gadis itu pun kemudian terjerat dan tak bisa berbuat
banyak.
“Lepaskan aku!” teriak gadis
itu.
“Jika kulepaskan, kau akan
lari dan pergi menghilang di sungai itu,” jawab Bujang Lelo.
“Maafkan aku karena telah
mencuri air niramu, tapi lepaskan aku, aku berjanji tidak akan lari,” kata
gadis itu menyahut.
“Baiklah, tapi kamu harus
ikut aku ke kampungku agar aku bisa membuktikan bahwa yang kukatakan adalah
benar dan mereka bisa percaya padaku,” jelas Bujang Lelo.
“Baiklah, aku akan menuruti
permintaanmu itu, namun sebelumnya aku ingin tanya siapa namamu?” jawab gadis
itu.
“Orang-orang memanggilku
Bujang lelo, dan kamu juga siapa?” Bujang Lelo balas bertanya.
“Aku adalah Gadis Ambai,”
jawab sang gadis.
Setelah ikatannya dilepas,
maka mereka berdua segera bergegas pergi ke rumah Bujang Lelo. Siang harinya,
Bujang Lelo bersama Gadis Ambai pergi ke kampung halamannya untuk menemui ibu
Bujang Lelo. Orang-orang kampung Bujang Lelo terpana melihat kecantikan dari
Gadis Ambai. Bahakan ada yang berkata, “pantas saja Bujang Lelo rela untuk
menunggu gadis idamannya.”
Setelah dikenalkan kepada
ibunya, Gadis Ambai pun hidup dan tinggal serumah dengan Bujang Lelo. Gadis
Ambai itu selalu membantu pekerjaan ibu dari Bujang Lelo. Kebaikan dan
kecantikan Gadis Ambai itu lama-lama mengikat hati Bujang Lelo.
Hingga suatu hari, Bujang
Lelo pun menyampaikan maksudnya untuk mempersunting Gadis Ambai itu kepada
ibunya. Ibunya pun menanyakan kesungguhan dari niat anaknya itu, karena Gadis
Ambai itu dari dunia yang berbeda. Bujang Lelo pun telah memantapkan hatinya
dan ibunya pun merestui keinginannya tersebut.
Suatu hari di pagi hari, sang
ibu pun memanggil Gadis Ambai. Sang ibu kemudian mengutarakan keinginan anaknya
untuk mempersunting Gadis Ambai. Gadis Ambai pun menyetujuinya, namun dengan
sebuah syarat. Syaratnya yaitu agar tidak membiarkannya mandi di sungai. Bujang
Lelo dan ibunya pun setuju dengan syarat itu. Pernikahan antara Bujang Lelo dan
Gadis Ambai pun segera digelar.
Setelah beberapa tahun hidup
bersama, Bujang Lelo dan Gadis Ambai dikarunai seorang anak laki-laki. Mereka
hidup dalam kebahagiaan dan ketentraman. Tidak ada lagi yang berani mengejek
Bujang Lelo.
Hingga suatu hari, kejadian
itu muncul. Bujang Lelo mengajak isteri dan anaknya pergi ke kebun. Pada saat
itu, Bujang Lelo pun sibuk bercocok tanam sedangkan anknya bermain hingga
kotor. Gadis Ambai yang melihat anaknya kotor pun berniat untuk memandikannya
di sungai. Ibu dan anak itu pun segera pergi ke tepi sungai.
Pada saat mandi, Gadis Ambai
pun ikut masuk dalam sungai. Setelah masuk ke sungai, dia kemudian teringat
dengan masa lalunya dan langsung menyelam ke tengah sungai dan melupakan segala
kehidupan yang telah dibangun dengan Bujang Lelo. Anaknya pun kemudian menangis
karena memanggil-manggil, namun ibunya tak kunjung muncul juga.
Saat Bujang Lelo selesai
bercocok tanam, ia segera menuju ke tempat isteri dan anknya. Namun, ia kaget
bukan kepalang ketika dia melihat anaknya menangis sendirian dalam keadaan
basah kuyup. Dia pun segera menanyakan kemana ibunya pergi. Anaknya pun
menjawab bahwa ibunya telah menyelam ke dasar sungai dan tak kembali. Mendengar
jawaban dari anaknya, Bujang Lelo sangat bersedih dan baru teringat kepada
janjinya.
Dari dalam air terdengarlah
suara yang aneh. Tidak salah lagi suara itu adalah milimk Gadis Ambai.
“Rawatlah anak kita, jika kau rindu aku, tunggulah sampai bulan purnama, aku
akan datang namun lewat mimpi,” bunyi suara itu. Namun terlambat, Bujang Lelo
yang menggendong anaknya telah lebih cepat menceburkan dirinya ke dalam sungai.
Bapak dan anak itu hilang dan hanyut terbawa sungai. Anehnya jasad keduanya tak
pernah ditemukan.
Mendengar kabar duka itu, ibu
bujang Lelo sangat terpukul dan sedih. Memang Bujang Lelo adalah tumpuan
keluargannya, apalagi ibunya telah tua. Sang ibu pun hanya bisa menangis dan
meratapi nasib hidupnya dan anaknya.
Begitulah akhir cerita dari
Gadis Ambai, memang ceritanya ada kemiripan dengan cerita Telaga Air Sentosa
dari Maluku. Perbedaanya bahwa kalau dalam cerita Telaga Air Sentosa itu
pelakunya dari khayangan sedangkan dalam Gadis Ambai ini berasal dari bawah
air, bisa disebut siluman air.selain itu endingnya
juga berbeda.
EmoticonEmoticon