Selasa, 10 Mei 2016

Cerpen Ernest Hemingway: old man at the bridge



PRIA TUA DI JEMBATAN

Seorang pria tua dengan mengenakan kaca mata berbingkai baja dan pakaian sangat berdebu, duduk di pinggir jalan. Ada sebuah jembatan ponton melintasi sungai. Gerobak keledai, truk, laki-laki, perempuan dan anak-anak sedang melintasi jembatan. Gerobak yang ditarik keledai terhuyung menaiki tepi sungai yang curam dari jembatan dan para tentara membantu mendorong jari-jari roda. Truk-truk berjalan naik dan menjauh meninggalkan jembatan dan para petani susah payah berjalan di jalan berdebu setebal mata kaki. Tetapi lelaki tua itu duduk di sana tanpa bergerak. Ia terlalu lelah untuk pergi lebih jauh.
Aku berkewajiban melintasi jembatan, menjelajah jembatan hingga sampai ujung jembatan lainnya dan mencaritahu sampai di titik mana musuh telah bergerak maju. Aku melakukan ini dan kembali melintasi jembatan. Tidak ada begitu banyak gerobak melintas sekarang dan sangat sedikit orang berjalan kaki melintasi jembatan, tetapi lelaki tua itu masih berada di sana.
“Dari mana kamu datang?” aku bertanya padanya.
“Dari San Carlos,” katanya dan tersenyum.
Itu adalah kota kelahirannya dan ia merasa senang saat menyebut kota kelahirannya dan ia kembali terseyum.
“Aku mengurus binatang,” jelasnya.
“Oh,” kataku, masih tidak cukup memahaminya.
“Ya,” katanya, “Kamu tahu aku tinggal di sini untuk mengurus binatang. Aku adalah orang terakhir yang meninggalkan kota San Carlos.”
Ia tidak nampak seperti seorang penggembala, dan aku melihat pakaian hitamnya yang berdebu, wajahnya yang berdebu abu-abu dan kaca matanya yang berbingkai baja dan berkata, “Binatang apa?”.”
“Berbagai macam binatang,” katanya, dan menggelengkan kepalanya. “Aku terpaksa meninggalkan mereka.”
Aku mengawasi jembatan dan wilayah Ebro Delta yang menghadap Afrika dan bertanya-tanya berapa lama lagi kami akan melihat musuh, dan mendengarkan keriuhan pertama yang menandakan  peristiwa yang pernah ada yang disebut peperangan, dan lelaki tua itu masih duduk di sana.
“Binatang apa saja yang kamu urus?” tanyaku.
“Ada tiga binatang seluruhnya,” ia menjelaskan. “Ada dua kambing dan seekor kucing dan kemudian ada empat pasang merpati.”
“Dan kamu terpaksa meninggalkannya?” tanyaku.
“Ya. Karena serangan artileri. Kapten menyuruhku pergi karena ada serangan artileri.”
“Dan kamu tidak punya keluarga?” tanyaku, sambil mengawasi ujung jauh jembatan di mana beberapa gerobak terakhir buru-buru menuruni lereng tebing sungai.
“Aku tidak punya keluarga,” katanya, “hanya binatang-binatang itu yang aku punya. Si kucing, tentu saja, akan baik-baik saja. Kucing bisa merawat dirinya sendiri, tetapi aku tidak tahu apa yang terjadi dengan binatang-binatang lainnya.”
“Kamu menganut paham politik apa?” tanyaku.
“Aku tidak menganut paham politik apa pun,” katanya.  “Aku berumur tujuh puluh enam tahun. Aku telah pergi sejauh dua belas kilometer sekarang dan sekarang aku berpikir aku tidak bisa pergi lebih jauh lagi.”
“Ini bukanlah tempat yang baik untuk berhenti,” kataku. “Jika kamu ingin pergi, ada beberapa truk melintasi jalan ini menuju Tortosa.”
“Aku akan menunggu sebentar,” katanya, “dan kemudian aku akan pergi. Kemana truk-truk itu pergi?”
“Ke Barcelona,” aku memberitahunya.
“Aku tidak mengenal seorang pun di arah itu,” katanya, “tetapi terima kasih banyak. Lagi, terima kasih banyak.”
Ia memandangku kosong dan letih, lalu berkata, setelah berbagi kekuatiran denganku, “Si kucing akan baik-baik saja, aku yakin itu. Tidak perlu kuatir dengan si kucing. Kecuali binatang-binatang lainnya. Sekarang apa pendapatmu tentang binatang-binatang lainnya itu?”
“Mengapa, mereka mungkin bisa menghadapi semua ini dengan baik-baik saja,” jawabku.
“Kamu pikir demikian?”
“Kenapa tidak?” kataku, sambil mengawasi tepi sungai di kejauhan di mana sekarang tidak ada gerobak.
“Tetapi apa yang akan mereka lakukan di bawah serangan artileri ketika aku diperintahkan untuk pergi karena serangan artileri?”
“Apakah kamu meninggalkan kandang merpati terbuka?” tanyaku.
“Ya.”
“Maka mereka akan terbang,” jawabku.
“Ya, tentu saja mereka akan terbang. Tetapi yang lainnnya. Lebih baik aku tidak memikirkan yang lainnya,” katanya.
“Jika kamu ingin beristirahat aku akan pergi,” desakku. “Bangun dan mencobalah untuk berjalan sekarang.”
“Terima kasih,” katanya dan ia pun berdiri, bergoyang dari sisi ke sisi dan kemudian terduduk ke belakang dalam debu.
“Aku mengurus beberapa binatang,” katanya datar, tetapi tidak lagi bicara padaku. “Aku hanya mengurus beberapa binatang.”
Tidak ada yang bisa dilakukan dengannya. Saat itu adalah Minggu Paskah dan pasukan fasis sedang bergerak maju menuju Ebro. Hari itu mendung sangat tebal dengan awan-awan melayang rendah sehingga pesawat musuh tidak berani terbang. Itu saja dan fakta bahwa kucing tahu bagaimana merawat diri mereka sendiri adalah suatu keberuntungan yang pria tua itu akan selalu miliki.

This Is The Oldest Page


EmoticonEmoticon