Selasa, 10 Mei 2016

CERPEN ERNEST HEMINGWAY : CAMP INDIAN

CERPEN ERNEST HEMINGWAY : CAMP INDIAN







Di tepi danau ada dua perahu dayung lain yang di tarik ke darat. Dua orang Indian berdiri menunggu.
Nick dan ayahnya masuk ke dalam buritan perahu dan orang-orang Indian itu mendorong perahu dan salah satu orang Indian itu naik ke perahu. Paman George duduk di buritan perahu dayung kamp. Si Indian muda mendorong perahu kamp dan naik untuk mendayung perahu Paman George.
Kedua perahu melaju dalam kegelapan. Nick mendengar suara kayuhan dayung dari perahu lainnya yang cukup jauh di depan mereka dalam kabut. Orang-orang Indian mendayung dengan gaya berombak cepat. Nick berbaring dengan lengan ayahnya memeluknya. Udara terasa dingin di atas air danau. Orang Indian yang mendayung mereka sedang bekerja sangat keras, tetapi perahu lainnya bergerak lebih cepat di depan dalam kabut sepanjang waktu.
“Ke mana kita akan pergi, Ayah?” tanya Nick.
“Ke kamp Indian. Ada seorang wanita Indian sedang sakit parah.”
“Oh,” kata Nick.
Setelah menyeberangi teluk mereka menemukan perahu lainnya sedang ditarik ke daratan. Paman George sedang merokok cerutunya dalam kegelapan. Si Indian muda menarik perahu ke pantai. Paman George memberi kedua Indian itu cerutu.
Mereka berjalan dari pantai melalui padang rumput yang basah kuyup dengan embun, mengikuti Indian muda yang membawa lentera. Kemudian mereka masuk ke dalam hutan dan mengikuti jejak yang mengarah ke jalanan batang kayu yang menuju ke perbukitan. Sungguh lebih ringan berjalan di atas jalanan batang kayu. Si Indian muda berhenti dan meniup mati lenteranya dan mereka semua berjalan sepanjang jalan.
Mereka sampai pada sebuah tikungan dan seekor anjing datang menggonggong. Di depan ada beberapa cahaya dari shanties (rumah Indian) di mana para Indian pengupas kulit kayu tinggal. Lebih banyak anjing lagi berlari keluar menuju mereka. Kedua Indian menyuruh anjing-anjing itu kembali ke shanties. Di shanty paling dekat dengan jalan ada sebuah cahaya di jendela. Seorang wanita tua berdiri di ambang pintu sambil memegang sebuah lampu.
Di dalam shanty di atas tikar kayu terbaring seorang wanita Indian muda. Ia telah mencoba melahirkan anaknya selama dua hari. Semua wanita tua di kamp telah membantunya. Para laki-laki telah pindah ke jalan dan duduk dalam kegelapan sambil merokok di luar jangkauan kegaduhan yang dibuat oleh wanita yang mau melahirkan itu. Ia berteriak saat Nick dan kedua Indian mengikuti ayahnya dan Uncle George masuk ke dalam shanty. Wanita itu terbaring di atas tikar kayu yang lebih rendah dengan ditutupi selimut. Kepalanya berpaling ke satu sisi. Di tikar kayu yang lebih tinggi suaminya duduk menunggui. Kaki si suami terluka parah akibat terkena kapak tiga hari yang lalu. Ia sedang merokok cangklongnya sehingga ruangan tersebut barbau sangat tidak enak.
Ayah Nick menyuruh seseorang untuk merebus air, dan sambil menunggu air itu mendidih, ia berbicara pada Nick.
“Wanita ini akan melahirkan seorang bayi, Nick,” katanya.
“Aku tahu,” kata Nick.
“Kamu tidak tahu,” kata ayahnya. “Dengarkan aku. Apa yang akan ia lalui disebut sebagai sedang bekerja keras. Si bayi ingin dilahirkan dan si ibu ingin bayi itu dilahirkan. Semua ototnya berusaha mengeluarkan si bayi. Itulah yang terjadi ketika ia menjerit.”
“Aku tahu,” kata Nick.
Saat itu si calon ibu menjerit.
“Oh, Ayah, bisakah Ayah memberinya sesuatu untuk menghentikannya menjerit?” tanya Nick.
“Tidak. Aku tidak mempunyai obat bius,” ayahnya berkata. “Tetapi jeritannya itu tidak penting. Aku tidak mendengarkan jeritan itu karena jeritan itu tidak penting.”
Si suami yang ada di ranjang atas berguling ke dinding.
Wanita yang ada di dapur memberitahu dokter bahwa air telah mendidih. Ayah Nick masuk ke dapur dan menuangkan sekitar separuh air  dari ketel besar ke dalam sebuah baskom. Ia kemudian memasukkan beberapa barang yang dibungkus dalam sapu tangan kedalam air panas yang tersisa di dalam ketel.
“Barang-barang itu harus di rebus hingga air mendidih,” kata ayah Nick, dan ia mulai membersihkan tangannya dengan air dalam baskom. Nick melihat tangan ayahnya menggosok satu sama lain dengan sabun. Sementara sambil mencuci tangannya dengan sangat cermat dan teliti, ia berbicara.
“Kamu lihat, Nick, bayi seharusnya dilahirkan dengan kepala keluar terlebih dahulu, tetapi kadang-kadang hal ini tidak terjadi. Ketika bayi tidak lahir dengan kepala keluar dahulu, itu akan membuat banyak masalah bagi setiap orang. Mungkin aku harus mengoperasi wanita ini. Kita akan tahu nanti.”
Ketika ia telah puas dengan tangannya, ia masuk dan mulai bekerja.
“Tolong singkirkan selimutnya, George,” katanya. “Aku tidak ingin menyentuhnya.”
Kemudian ketika ia mulai mengoperasi, Paman George dan tiga orang Indian memegang si wanita agar tetap diam. Si wanita menggigit tangan George dan Paman George berkata,”Dasar jalang sialan!” dan Indian muda yang telah mendayung untuk Paman George tertawa padanya. Nick memegangi baskom untuk ayahnya. Operasi itu membutuhkan waktu lama.
Ayah Nick mengangkat si bayi dan menamparnya agar bisa bernafas dan menyerahkan bayi itu pada seorang wanita tua.
“Lihat, ini laki-laki, Nick,” katanya. “Bagaimana rasanya menjadi seorang dokter?”
Nick berkata, “Bagus.” Ia melihat jauh seolah-olah ia tidak melihat apa yang ayahnya sedang lakukan.”
“Ini dia,” kata ayahnya sambil memasukkan sesuatu ke dalam baskom.
Nick tidak melihatnya.
“Sekarang,” ayahnya berkata, “Aku harus melakukan beberapa jahitan. Kamu bisa melihatnya jika kamu mau, Nick. Aku akan menjahit sayatan yang aku buat.”
Nick tidak melihatnya. Rasa ingin tahunya telah lama pergi.
Ayahnya selesai menjahit dan berdiri. Paman George dan tiga Indian ikut berdiri. Nick mengembalikan baskom ke dapur.
Paman George memandangi tangannya. Si Indian muda tersenyum mengenang kejadian itu.
“Olesi lukamu dengan peroksida, George,” kata dokter.
Ayah Nick membungkuk di atas wanita Indian itu. Ia cukup tenang sekarang dan matanya menutup. Ia nampak sangat pucat. Ia tidak tahu apa yang terjadi dengan bayinya atau apa pun.
“Ia akan siuman di pagi hari,” kata si dokter, sambil berdiri. “Perawat akan datang ke sini dari St.Ignace saat siang besok dan ia akan membawa segala sesuatu yang kita butuhkan.”
Ia merasa sangat gembira dan cerewet seperti pemain sepak bola yang berada di ruang ganti setelah pertandingan.
“Itu untuk jurnal medis, George,” kata ayah Nick. “Melakukan bedah cesar dengan pisau lipat besar dan menjahitnya dengan sembilan-kaki, tapered gut leaders.
Paman George berdiri bersandar pada dinding, melihat tangannya.
“Oh, kamu sungguh hebat,” kata Paman George.
“Kita lebih baik melihat si ayah yang bangga. Para suami biasanya orang yang paling menderita dalam kasus kecil seperti ini,” kata dokter. “Aku berani katakan ia menghadapi semua ini dengan cukup tenang.”
Ia menarik selimut dari kepala si Indian. Tangannya basah. Ia naik di tepi ranjang bawah dengan lampu di tangannya dan melihat ke dalam. Si Indian berbaring dengan wajah menghadap dinding. Tenggorokannya telah dipotong dari telinga ke telinga. Darah mengalir membentuk genangan di tempat tubuhnya merosot dari ranjang. Kepalanya bertumpu pada lengan kirinya. Pisau cukur tergeletak di dalam selimut.
“Bawa Nick keluar dari shanty, George, “ kata si dokter.
Tidak ada perlunya melakukan hal itu. Nick, berdiri di pintu dapur, bisa melihat dengan jelas ranjang bagian atas ketika ayahnya dengan lampu di tangannya, menyinggung bagian belakang kepala si Indian, suami dari wanita yang telah melahirkan bayi laki-laki.
Hari menjelang pagi ketika mereka berjalan di sepanjang jalan kayu kembali menuju ke danau. “Aku sungguh menyesal membawamu serta, Nickie,” kata ayahnya, seluruh kegembiraan pasca operasi telah hilang. “Ini adalah kekacauan mengerikan yang kamu alami.”
“Apakah wanita selalu mengalami kesulitan saat melahirkan bayi?” tanya Nick.
“Tidak, itu sungguh, sungguh luar biasa.”
“Mengapa ia bunuh diri, Ayah?”
“Aku tidak tahu, Nick. Aku rasa, Ia tidak tahan menghadapi segala sesuatunya.”
“Apakah banyak laki-laki melakukan bunuh diri, Ayah?”
“Tidak banyak, Nick.”
“Apakah banyak wanita melakukannya?”
“Hampir tidak ada.”
“Tidakkah wanita pernah bunuh diri?”
“Oh, ya. Mereka kadang-kadang melakukannya.”
“Ayah?”
“Ya.”
“Kemana Paman George pergi?”
“Ia akan muncul segera?”
“Apakah mati itu sulit, Ayah.”
“Tidak, aku rasa itu cukup mudah, Nick. Itu semuanya tergantung.”
Mereka duduk di perahu, Nick di buritan, ayahnya mendayung. Matahari muncul di atas perbukitan. Seekor ikan bass melompat, membuat lingkaran di air. Nick memasukkan tangannya ke dalam air. Ia merasakan kehangatan dalam dinginnya pagi.
Di pagi hari di danau, duduk di buritan  perahu dengan ayahnya mendayung, Nick merasa cukup yakin bahwa ia tidak akan pernah mati.

1 komentar so far

How to Play Pai Gow Poker | BetRivers Casino - Wolverione
Pai Gow Poker is an online version of a traditional table gri-go.com game in https://octcasino.com/ which players place bets in bsjeon the background. Pai Gow Poker uses only worrione.com the symbols from https://access777.com/ a


EmoticonEmoticon