Selasa, 10 Mei 2016

CERPEN ERNEST HEMINGWAY: DOKTER DAN ISTRI DOKTER



DOKTER DAN ISTRI DOKTER

Dick Boulton dari kamp Indian, memotong kayu untuk ayah Nick. Ia membawa anaknya Eddy dan orang Indian lain bernama Billy Tabeshaw. Mereka datang melalui pintu gerbang belakang yang langsung berhadapan dengan hutan. Eddy membawa gergaji tarik panjang. Gergaji itu memantul-mantul di atas bahunya dan menciptakan suara musik saat ia berjalan. Billy Tabeshaw membawa dua kait besar. Dick membawa tiga kapak di bawah lengannya.
Ia berbalik dan menutup pintu gerbang. Yang lainnya berjalan di depannya menuju tepi danau di mana batang-batang kayu terkubur di dalam pasir.
Batang-batang kayu itu telah lepas dari rangkaian besar batang-batang kayu yang ditarik melalui danau menuju ke penggergajian kayu oleh kapal uap Magic. Batang-batang kayu itu hanyut ke tepi danau dan jika tidak ada yang dilakukan terhadap batang-batang kayu tersebut cepat atau lambat kru kapal Magic akan datang ke sepanjang pantai dengan naik perahu dayung, lalu menandai batang-batang kayu, memaku cincin di salah satu ujung batang kayu dan kemudian menarik batang-batang kayu itu ke danau untuk membuat rangkaian batang-batang kayu lagi. Namun, penebang pohon  mungkin tidak pernah datang untuk batang-batang kayu tersebut karena sedikit batang kayu nilainya tidak sebanding dengan upah kru untuk mengumpulkan batang-batang kayu yang jumlahnya sedikit itu. Jika tidak seorangnpun datang untuk mengambil batang-batang kayu itu, mereka akan ditinggalkan begitu saja dan lapuk di tepi danau.
Ayah Nick selalu beranggapan bahwa inilah yang akan terjadi, dan ia menyewa orang-orang Indian untuk datang dari kamp dan memotong batang kayu dengan gergaji tarik panjang dan membelahnya dengan ganjal untuk membuat kayu bakar perapian. Dick Boulton berjalan  melewati pondok menuju ke danau. Ada empat batang kayu beech besar yang tergeletak hampir terkubur di dalam pasir. Eddy menggantung gergaji dengan mencantolkan pegangan salah satu gergaji pada selangkangan pohon. Dick meletakkan ketiga kapak di dermaga kecil. Dick adalah separuh peranakan dan banyak petani di sekitar danau percaya bahwa ia sesungguhnya adalah orang kulit putih. Ia sangat malas tetapi menjadi pekerja yang hebat begitu mulai bekerja. Ia mengambil segenggam tembakau dari sakunya, menggigit satu kunyahan dan berbicara dalam bahasa Ojibway pada Eddy dan Billy Tabeshaw.
Mereka menancapkan ujung-ujung kait besar pada salah satu batang kayu dan mengayunkan batang kayu itu hingga lepas di atas pasir. Mereka mengayunkan berat badan mereka melawan poros kait. Batang kayu berpindah ke atas pasir. Dick Boulton berpaling ke ayah Nick.
“Nah, Dok,” katanya, “batang-batang kayu yang kamu curi ini cukup banyak.”
“Jangan bicara seperti  itu, Dick,” kata si dokter. “ini batang kayu yang hanyut.”
Eddy dan Billy Tabeshaw mengguncang-guncangkan batang kayu hingga keluar dari pasir basah dan menggelindingkannya ke air danau.
“Masukkan ke dalam air,” teriak Dick Boulton.
“Untuk apa kamu melakukan itu?” tanya si dokter.
“Mencuci batang kayu itu. Menyingkirkan pasir demi keamanan gergaji. Aku ingin melihat milik siapa batang kayu ini,” kata Dick.
Batang kayu baru saja dicuci di danau. Eddy dan Billy Tabeshaw bersandar pada gancu besar mereka dan mereka berkeringat di bawah sinar matahari. Dick berlutut di pasir dan melihat segel tanda palu  pada kayu di ujung batang kayu.
“Batang kayu ini milik White and McNally,” kata Dick , sambil berdiri dan membersihkan lutut celananya.
Si dokter merasa sangat tidak nyaman.
“Kamu lebih baik jangan menggergajinya, Dick,” kata si dokter,  pendek.
“Jangan tersinggung, Dok,” kata Dick. “Jangan tersinggung. Aku tidak peduli dari siapa kamu mencurinya. Ini bukan urusanku.”
“Jika kamu pikir batang-batang kayu ini curian, tinggalkan mereka dan ambil peralatanmu kembali ke kamp,” kata si dokter. Wajahnya memerah.
“Jangan marah, Dok,” kata Dick. Ia meludahkan air tembakau pada batang kayu. Air liur itu meluncur ke bawah dan menipis di dalam air. “Kamu dan aku tahu batang-batang kayu ini adalah curian. Ini tidak ada bedanya bagiku.”
“Baiklah. Jika kamu pikir batang-batang kayu ini curian, ambil peralatanmu dan pergi.”
“Sekarang, Dok.”
“Ambil barang-barangmu dan pergi.”
“Dengar, Dok.”
“Jika kamu memanggilku Dok sekali lagi, aku akan merontokkan gigi-gigimu.”
“Oh, tidak, kamu tidak akan melakukannya, Dok.”
Dick Boulton memandang si dokter. Dick adalah seorang pria besar. Ia tahu betapa besarnya Dick. Ia suka berkelahi. Ia bahagia. Eddy dan Billy Tabeshaw bersandar pada gancu besar dan memandang si dokter. Si dokter mengunyah jenggot di bibir bawahnya dan memandang Dick Boulton. Kemudian si dokter membalikkan badan dan berjalan menaiki bukit menuju ke pondoknya. Mereka bisa melihat dari punggungnya betapa marahnya si dokter. Mereka semua melihatnya menaiki bukit dan masuk ke dalam pondok.
Dick mengatakan sesuatu dalam bahasa Ojibway. Eddy tertawa tetapi Billy terlihat sangat serius. Ia tidak mengerti bahasa Inggris tetapi ia telah berkeringat sepanjang waktu. Ia gemuk dengan hanya beberapa rambut kumis seperti orang China. Ia mengambil dua gancu. Dick mengambil kapak dan Eddy mengambil gergaji dari pohon. Dick meninggalkan pintu terbuka. Billy Tabeshaw kembali dan mengucinya. Mereka melewati hutan.
Di pondok si dokter, sambil duduk di ranjang di ruangannya, melihat tumpukan jurnal medis di lantai di samping meja kerja. Jurnal-jurnal itu masih di dalam bungkus belum dibuka. Itu membuat si dokter kesal.
“Tidakkah kamu akan kembali bekerja, sayang?” tanya istri si dokter dari ruangan di mana ia sedang berbaring dengan tirai tertutup.
“Tidak.”
“Apakah ada masalah?”
“Aku bertengkar dengan Dick Boulton.”
“Oh,” kata istrinya. “Aku harap kamu tidak kehilangan kesabaranmu, Henry.”
“Tidak,” kata si dokter. “Ia yang menguasai jiwanya adalah lebih hebat daripada ia yang mengguasai sebuah kota,”  kata istrinya. Ia adalah seorang ilmuwan Kristen. Kitabnya, salinannya mengenai Ilmu Pengetahuan dan Kesehatan dan Jurnal Triwulanan-nya berada di atas meja di samping tempat tidurnya di ruangan yang gelap.
Suaminya tidak menjawab. Ia duduk di atas tempat tidur sekarang, sambil membersihkan senapannya. Ia menekan magasin penuh dengan peluru kuning dan kemudian mengeluarkan peluru-peluru itu lagi. Peluru-peluru itu tersebar di atas tempat tidur.
“Henry,” istrinya memanggil. Kemudian diam sesaat. “Henry!”
“Ya,” kata si dokter.
“Kamu tidak mengatakan sesuatu yang membuat Boulton marah, kan?”
“Tidak,” kata si dokter.
“Jadi masalahnya apa, sayang?”
“Tidak ada.”
“Katakan padaku, Henry. Tolong, jangan menyembunyikan sesuatu dariku. Apa masalah?”
“Baiklah, Dick berhutang banyak padaku karena aku telah membantu meyembuhkan penyakit pneumonia istrinya dan aku rasa ia ingin bertengkar sehingga ia tidak harus membayar dengan bekerja padaku.”
Istrinya diam. Dokter mengelap senjatanya hati-hati dengan menggunakan sebuah kain lap. Ia memasukkan kembali peluru-peluru ke dalam magasin. Ia duduk dengan senapan di atas pengkuannya. Ia sangat menyukai senapannya. Kemudian ia mendengar suara istrinya dari ruangan gelap.
“Sayang, aku rasa orang tidak akan melakukan hal seperti itu.”
“Tidak,” kata dokter.
“Tidak. Aku sungguh tidak percaya bahwa orang akan melakukan hal seperti itu dengan sengaja.”
Si dokter berdiri dan menaruh senapannya di sudut di belakang lemari.
“Apakah kamu akan keluar, sayang?” kata istrinya.
“Aku rasa aku akan pergi jalan-jalan,” kata si dokter.
“Jika kamu melihat Nick, sayang, tolong katakan padanya bahwa ibunya ingin menemuinya?” kata istrinya.
Si dokter menuju ke teras. Pintu kasa terbanting di belakangnya. Ia mendengar istrinya menahan nafas ketika pintu dibanting.
“Maaf,” kata si dokter, di luar jendela kamar istrinya dengan tirai tertutup.
“Tidak apa-apa, sayang,” kata istrinya.
Si dokter keluar melalui pintu gerbang  dan berjalan sepanjang jalan setapak masuk ke hutan ‘hemlock’. Di dalam hutan sungguh terasa sejuk bahkan pada siang yang panas ini. Ia mendapati Nick sedang duduk bersandar pada sebuah pohon sambil membaca.
“Ibumu ingin kamu pulang dan menemuinya,” kata si dokter.
“Aku ingin pergi dengan Ayah,” kata Nick.
Si dokter memandang anaknya.
“Baiklah. Ayo pergi, kalau begitu,” kata ayahnya. “Berikan bukunya padaku, aku akan menaruhnya di sakuku.”
“Aku tahu di mana ada banyak tupai hitam, Yah,” kata Nick.
“Baiklah,” kata ayahnya. “Ayo kita pergi kesana.”


EmoticonEmoticon